Sabtu, 10 Desember 2016

CINTA ITU SOAL PERASAAN

Terharu dengan Kisah ini

Pagi itu di sebuah rumah sakit sedang sibuk - sibuk nya..
Seorang pria tua berusia 70 tahun an datang untuk memeriksakan jahitan pada luka - luka di jari nya..

Petugas rumah sakit yang menyambutnya menyiapkan berkas dan memintanya untuk menunggu…
sebab semua dokter masih sibuk…dan laki - laki tua itu mungkin baru akan di layani satu jam lagi..

Sewaktu menunggu…bapak tua itu tampak gelisah…sebentar - sebentar ia melirik jam tangan nya..…

Petugas itu pun bertanya : "apakah bapak punya janji…kok kelihatan nya gelisah..?? "

Lelaki tua itu menjawab : ""tidak ,bapak cuma mau ke panti jompo untuk makan siang bersama istri "

Makan siang bersama itu merupakan aktifitas nya sehari - hari..

Dia bercerita bahwa istri nya di rawat di panti jompo sejak lama,dan istri nya itu menderita penyakit Alzheimer ( hilang ingatan )..

Petugas itu pun bertanya lagi : "apakah ibu akan marah kalau bapak datang terlambat..?? "

Bapak tua itu menjawab : " istri ku sudah tidak mengenaliku sejak lima tahun terakhir…"

Petugas itu pun terkejut : " Bapak masih pergi kesana setiap hari walaupun istri bapak tidak kenal lagi..?? "

Bapak itu tersenyum…tangan nya menepuk bahu petugas sambil berkata : "dia memang tidak mengenali saya…akan tetapi saya masih mengenali dia kan..?? "

Petugas itu menahan air mata sampai bapak itu pergi..

Cinta kasih seperti itulah yang kita inginkan dalam hidup…
cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis..…
Cinta sejati adalah menerima apa yang terjadi saat ini…yang sudah terjadi…dan yang akan terjadi...

orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segalanya.

Jumat, 09 Desember 2016

Kebohongan Penuh Rasa Cinta Seorang lbu




Kisah kebohongan ibu penuh rasa cinta ini terjadi pada sebuah keluarga tak berada yang memiliki seorang anak laki _ laki . Kebohongan_ kebohongan sang lbu mulai disadari si anak sejak masih duduk di sekolah dasar dan terus berlanjut hingga si anak menginjak dewasa .

Berikut cerita delapan kebohongan lbu pada si anak yang masih mengingatnya dengan baik

Agar tidak Khawatir Tentang Rezeki, Baca 2 Ayat Ini Sebanyak-banyaknya

 


Rezeki sudah ditakdirkan satu paket dengan kehidupan yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada kita.
Tidaklah Dia menghidupkan makhluk-Nya, kecuali telah melengkapinya dengan jatah rezeki sampai kematian datang menjemputnya.

Sayangnya, banyak yang sering merasa khawatir. Tidak sedikit kaum Muslimin yang mengkhawatirkan jatah rezekinya, padahal jumlahnya sudah amat pasti. Tidak bisa diganggu gugat. Mustahil dikurangi atau ditambah.

Bagi siapa pun yang masih sering merasa khawatir dengan rezeki, bacalah

Kamis, 08 Desember 2016

Liwa’ dan Rayah, Bendera Rasulullah, Bendera Khilafah



Banyak kaum muslim yang tidak mengenal Liwa’ dan Rayah. Barat dan para pembenci Islam telah berhasil menanamkan persepsi keliru di benak orang-orang, termasuk kaum muslimin, sehingga mereka mengira bahwa kedua bendera mulia ini adalah perlambang teror dan 'radikalisme' Islam.
Lalu apa itu Liwa’ dan Rayah?

Ibnu Abbas ra berkata, “Rayah Rasul SAW berwarna hitam, sedangkan Liwa’nya berwarna putih,” (HR.Tirmidzi & Ibnu Majah)

Al-Liwa’ dan ar-Rayah dari sisi bahasa merujuk kepada semua al-‘alam (bendera). Di dalam Qâmûs al-Muhîth dinyatakan: ar-Rayah adalah bendera (al-‘alam) dan bentuk jamaknya ar-râyât, sedangkan al-Liwâ’ adalah bendera (al-‘alam) dan bentuk jamaknya alwiyah. Syara’ memberi masing-masingnya penjelasan dari bentuk dan penggunaannya, sebagai berikut,

Al-Liwâ’ itu berwarna putih, bertuliskan tulisan hitam ‘Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh’, yang diberikan kepada panglima pasukan atau komandan pasukan untuk menjadi penanda posisinya. Al-Liwa’ berpindah-pindah mengikuti posisi panglima atau komandan itu.

Anas bin Malik ra berkata, ‘Ketika Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan untuk memerangi Romawi, beliau mengangkatkan liwa’nya dengan tangannya. (HR.An-Nasa’i)

Liwa’ ini juga merupakan bendera resmi Daulah Islam di masa Rasulullah SAW dan para Khalifah setelah beliau SAW.

Sedangkan Ar-Rayah adalah panji berwarna hitam, bertuliskan tulisan putih Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasulullah, yang diberikan kepada komandan divisi pasukan (setingkat batalyon, brigade, dan satuan pasukan lainnya). Di antara dalilnya adalah ketika Rasulullah memberikan Rayah kepada ‘Ali ra di perang Khaibar, sebagai simbol penunjukan beliau (‘Ali ra) sebagai komandan divisi atau batalyon tentara.

Membawa kedua bendera ini merupakan salah satu kebanggaan dan tugas yang mulia. Seorang muslim yang mengemban amanah untuk memegangnya akan mempertahankannya meski dengan taruhan.

Seorang Ayah Bertaubat Karna Anaknya yang Bisu dan Tuli

Kisah Nyata

Berikut adalah kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan. Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya: “Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya”.

Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba,

Senin, 25 Juli 2016

Hasan Al-Banna dan Kelahiran Al-Ikhwanul Muslimun


Setelah runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924, pasca Perang Dunia Pertama, hampir semua negara Arab jatuh ke tangan penjajah Barat. Umat Islam pun mulai tercabik-cabik oleh kekuatan imperialisme Barat.

Dalam kondisi dunia Islam seperti itulah, seorang pemuda bernama Hasan bersama beberapa orang sahabatnya mendirikan cikal bakal gerakan “Ikhwanul Muslimun”.

Hasan Al-Banna lahir di