Rabu, 15 Februari 2017

Kisah Dubai dan Kebenaran Sabda Nabi




Kehidupan ini merupakan nyata, lebih nyata dari komentar siapa pun tentang realitas. Kehidupan  terus bergerak, mengalir, dan juga berbeda. Hari ini, seorang miskin bertelanjang kaki. Besok hari, seketika dia jadi milyuner yang membangun gedung pencakar langit yang besar. Nabi Muhammad SAW sempat bersabda menggambarkan suasana kehidupan akhir zaman, 

“dan apabila engkau melihat mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan juga penggembala kambing, (setelah itu) berlomba - lomba membikin bangunan yang besar. ”
sabda dia ini nyata! lebih nyata dari komentar siapapun tentang realitas.


Kali ini kita menceritakan tentang

Cinta Bersujud di Mihrab Taat


Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orang tuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, ”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian ! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”


Demikianlah Julaibib.
Namun

Kisah Si Anak Batu


Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau adalah seorang anak yatim, Ayahnya meninggal pada saat beliau masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika beliau masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, beliau tumbuh menjadi remaja yang rajin, pekerja keras dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 Sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir.


Nama asli beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan julukan Ibnu Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar berarti anak batu, sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.


Suatu ketika, saat beliau masih

Jumat, 03 Februari 2017

Dosa Ghibah & Akibatnya


 
Seorang kawan mengajak kami makan bersama di rumahnya, sebut saja namanya Abdullah. Saat tengah menyantap hidangan, tiba-tiba salah seorang yang hadir menyinggung seseorang yang tak ikut hadir dengan ucapan yang tidak baik.

Dengan senyum dan lahjah arab yang khas Abdullah berkata "Saya kira daging Ayam, Unta, dan hidangan ini sudah cukup mengenyangkan kita. Jadi tak perlu ditambah dengan daging saudara kita sendiri".

Lalu,

Sudahkah Kita ???




Apakah merasa cukup hanya mendoakan orang tua setahun sekali atau seingatnya saja? Padahal Allah telah menyuruh kita untuk bersyukur padaNya dan bersyukur pada kedua orangtua.

"Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya: ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan meyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu." (QS. Luqman : 4)

Rasanya penting untuk senantiasa mengingat orangtua dalam doa kita sehabis shalat maupun dalam sujud ketika shalat, karena ketika sujud ada anjuran dari Rasulullah untuk memperbanyak doa.

“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah).

Sekalipun pernah merasa kecewa atau benci pada orang tua sendiri, namun berbuat baiklah pada keduanya dengan mendoakan hal-hal yang baik karena tanpa mereka, tidak akan ada kehadiran kita di dunia ini.

Mendoakan orangtua menjadi bukti kesyukuran kita terhadap mereka dan tentu saja pada Allah. Tidak perlu berdoa yang panjang-panjang, dalam al Qur'an telah termaktub cara berdoa untuk kedua orangtua yang begitu ringkas namun dalam maknanya untuk kehidupan dunia dan akhirat: 

“Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku.” (QS. Nuh : 28) .

“Dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al Isra : 24) .
.
Semoga kita bisa merutinkan berdoa untuk kedua orangtua setiap harinya, dan tidak sekadar mendoakan kebutuhan diri sendiri saja.


Semoga bermanfaat

Rabu, 01 Februari 2017

Pola Makan Sehat Ala Rasulullah SAW



Kesehatan merupakan aset kekayaan yang tak ternilai. Ketika nikmat kesehatan dicabut oleh Allah SWT, maka manusia rela mencari pengobatan dengan biaya yang mahal bahkan ke tempat yang jauh sekalipun. Sayangnya, hanya sedikit orang yang penduli dan memelihara nikmat kesehatan yang Allah SWT telah anugerahkan sebelum dicabut kembali oleh-Nya.

Rasulullah SAW pernah bersabda 
 "Dua nikmat yang sering kali manusia tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang". (HR Bukhari, Imam Ahmad dan Imam Turmudzi).

Dalam hadist lain disebutkan Rasulullah SAW bersabda, 
"Nikmat yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak adalah ketika dikatakan kepadanya, "Bukankah Aku telah menyehatkan badanmu serta memberimu minum dengan air yang dingin?" (HR Turmudzi dan Hakim).

Menurut