Jumat, 09 Desember 2016

Agar tidak Khawatir Tentang Rezeki, Baca 2 Ayat Ini Sebanyak-banyaknya

 


Rezeki sudah ditakdirkan satu paket dengan kehidupan yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada kita.
Tidaklah Dia menghidupkan makhluk-Nya, kecuali telah melengkapinya dengan jatah rezeki sampai kematian datang menjemputnya.

Sayangnya, banyak yang sering merasa khawatir. Tidak sedikit kaum Muslimin yang mengkhawatirkan jatah rezekinya, padahal jumlahnya sudah amat pasti. Tidak bisa diganggu gugat. Mustahil dikurangi atau ditambah.

Bagi siapa pun yang masih sering merasa khawatir dengan rezeki, bacalah

Kamis, 08 Desember 2016

Liwa’ dan Rayah, Bendera Rasulullah, Bendera Khilafah



Banyak kaum muslim yang tidak mengenal Liwa’ dan Rayah. Barat dan para pembenci Islam telah berhasil menanamkan persepsi keliru di benak orang-orang, termasuk kaum muslimin, sehingga mereka mengira bahwa kedua bendera mulia ini adalah perlambang teror dan 'radikalisme' Islam.
Lalu apa itu Liwa’ dan Rayah?

Ibnu Abbas ra berkata, “Rayah Rasul SAW berwarna hitam, sedangkan Liwa’nya berwarna putih,” (HR.Tirmidzi & Ibnu Majah)

Al-Liwa’ dan ar-Rayah dari sisi bahasa merujuk kepada semua al-‘alam (bendera). Di dalam Qâmûs al-Muhîth dinyatakan: ar-Rayah adalah bendera (al-‘alam) dan bentuk jamaknya ar-râyât, sedangkan al-Liwâ’ adalah bendera (al-‘alam) dan bentuk jamaknya alwiyah. Syara’ memberi masing-masingnya penjelasan dari bentuk dan penggunaannya, sebagai berikut,

Al-Liwâ’ itu berwarna putih, bertuliskan tulisan hitam ‘Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh’, yang diberikan kepada panglima pasukan atau komandan pasukan untuk menjadi penanda posisinya. Al-Liwa’ berpindah-pindah mengikuti posisi panglima atau komandan itu.

Anas bin Malik ra berkata, ‘Ketika Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan untuk memerangi Romawi, beliau mengangkatkan liwa’nya dengan tangannya. (HR.An-Nasa’i)

Liwa’ ini juga merupakan bendera resmi Daulah Islam di masa Rasulullah SAW dan para Khalifah setelah beliau SAW.

Sedangkan Ar-Rayah adalah panji berwarna hitam, bertuliskan tulisan putih Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasulullah, yang diberikan kepada komandan divisi pasukan (setingkat batalyon, brigade, dan satuan pasukan lainnya). Di antara dalilnya adalah ketika Rasulullah memberikan Rayah kepada ‘Ali ra di perang Khaibar, sebagai simbol penunjukan beliau (‘Ali ra) sebagai komandan divisi atau batalyon tentara.

Membawa kedua bendera ini merupakan salah satu kebanggaan dan tugas yang mulia. Seorang muslim yang mengemban amanah untuk memegangnya akan mempertahankannya meski dengan taruhan.

Seorang Ayah Bertaubat Karna Anaknya yang Bisu dan Tuli

Kisah Nyata

Berikut adalah kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan. Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya: “Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya”.

Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba,

Senin, 25 Juli 2016

Hasan Al-Banna dan Kelahiran Al-Ikhwanul Muslimun


Setelah runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924, pasca Perang Dunia Pertama, hampir semua negara Arab jatuh ke tangan penjajah Barat. Umat Islam pun mulai tercabik-cabik oleh kekuatan imperialisme Barat.

Dalam kondisi dunia Islam seperti itulah, seorang pemuda bernama Hasan bersama beberapa orang sahabatnya mendirikan cikal bakal gerakan “Ikhwanul Muslimun”.

Hasan Al-Banna lahir di

Minggu, 29 Mei 2016

Untuk Seseorang



Untuk kamu yang hadirnya selalu kuminta dalam rapal doa, semoga di tahun ini Tuhan berkenan mempertemukan kita. Rasanya kini sudah bukan saatnya lagi aku bermain dalam hubungan tanpa
tujuan. Setelah sederet kisah cinta yang pernah ada, kini aku mantapkan
hati untuk tidak bermain-main lagi.

Setahun kemarin sudah ku coba menata diri persiapkan diri, menyambut dia yang kelak kusebut belahan jiwa. Jika semesta bersedia mengamini, semoga wajahmu bisa kulihat di tahun ini.

Rentetan kisah yang berujung patah hati telah

Jumat, 27 Mei 2016

Generasi Bahagia



Generasi bahagia Itu, generasi kelahiran 1970-1995, Dan itu adalah kami. Kami adalah generasi terakhir yang masih bermain di halaman rumah yang luas. Kami berlari dan bersembunyi penuh canda-tawa dan persahabatan. Main Petak Umpet, Boy-boynan, Gobag sodor, Betengan, Lompat tali, Masak-masakan, Sobyong, Jamuran, Ngejar layangan putus sambil lari" , Maen Putri-putri Melati tanpa peringatan dari Bapak Ibu. Kami bisa memanfaatkan gelang karet, isi sawo, kulit jeruk, baterei bekas, sogok telik menjadi permainan yang mengasyikkan. Kami yang tiap melihat pesawat terbang langsung teriak minta uang.

Kami generasi yang ngantri di wartel dari jam 5 pagi, berkirim surat dan menanti surat balasan dengan penuh rasa rindu. Tiap sore kami menunggu cerita radio Brama Kumbara, berkirim salam lewat penyiar radio. Kamilah generasi yang SD nya merasakan papan tulis berwarna hitam, masih pakai pensil dan rautan yang ada kaca di salah satunya. Kamilah generasi yang SMP dan SMA nya masih pakai papan tulis hitam dan kapur putih. Generasi yang