Senin, 23 Januari 2017

Pamer


Ustadz Abdullah Zaen MA

Saya yakin sangat sedikit di antara kita yang mau bekerja tanpa digaji. Alasannya tentu, “Ngapain capek-capek, tapi ndak dapat apa-apa!”. Tahukah Anda bahwa ada yang lebih naas dibanding orang yang bekerja tanpa digaji? Yakni orang yang lelah beramal di dunia, namun ia tidak mendapatkan balasan pahala kelak di akhirat.

Banyak hal yang menyebabkan seseorang gagal meraih pahala. Di antara faktor penghalang yang paling banyak terjadi adalah pamer. Maksudnya pamer dalam beramal salih. Bahasa agamanya adalah riya’. Definisi riya’: menampakkan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain supaya dipuji oleh mereka.
Rasulullah SAW bersabda, “Berilah kabar gembira kepada umat ini dengan keluhuran, ketinggian, kemenangan dan kekokohan di muka bumi. Barang siapa di antara mereka melakukan amalan ukhrawi untuk meraih dunia; pada hari akhirat kelak ia tidak akan memperoleh bagian (pahala)”.
 (HR. Ahmad dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu’anhu).

Sarana untuk pamer amal salih di zaman kita ini semakin banyak. Di antara yang paling merebak adalah selfie. Nampang ketika ngaji, sedekah, kurban, umrah, shalat, haji dan lain-lain. Lalu diupload seluas mungkin di medsos. Niat awalnya mungkin untuk memotivasi orang lain. Tapi kemudian setan datang untuk melencengkan maksud baik tersebut. Waspadalah!

Bila kebanyakan orang pamer dengan amal salihnya, ada spesies praktek pamer lainnya yang cukup aneh. Yakni; Pamer maksia Ya, pamer dengan perbuatan dosa. Orang yang masih punya rasa malu dan normal keimanannya, tentu akan merasa jengah ketika ketahuan berbuat maksiat. Namun di zaman ini, ada jenis manusia yang justru bangga dengan maksiatnya. Contohnya sudah berpacaran, foto-foto bareng, masih pula diupload di medsos.

Rasulullah SAW mengingatkan bahaya pamer maksiat, “Seluruh ummatku berpeluang mendapat ampunan, kecuali orang yang terang-terangan berbuat maksiat”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA)

Peran Perempuan Dalam Islam


Islam datang ke dunia membawa seperangkat aturan untuk memastikan kehidupan manusia berjalan sesuai dengan fitrah dan membawa kebahagiaan bagi manusia dunia dan akhirat. Aturan tersebut berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan. Keduanya sama dalam pandangan syariah (Lihat: QS al-Ahzab : 35).

Namun, ada saatnya Islam memberikan aturan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki wajib mencari nafkah, berjihad, shalat Jumat, menunaikan perwalian; sedangkan perempuan tidak wajib. Sebaliknya, perempuan terikat dengan hukum-hukum tertentu seperti wajib meminta izin kepada suami, mengenakan jilbab dan kerudung, ber-‘iddah, dan sebagainya; sementara laki-laki tidak.

Pembedaan ini bukan untuk

Minggu, 22 Januari 2017

Untukmu, Yang Wajah Cantiknya Masih Bertebaran Di Media Sosial

Untukmu saudariku semua...

Katanya seorang akhwat ingin menutup diri dan berhijrah, tapi nyatanya malah mengundang fitnah melalui media lain. Seorang akhwat yang berjilbab besar, yang sudah rutin ikut ta’lim yang menutup aurat tidak berarti BOLEH foto, baik difoto sendiri (selfie) atau orang lain, lalu diunggah ke internet dan media-media sosial seperti Facebook dan Twitter, atau dijadikan foto profil BBM, WA dan lain-lain.

Pakai jilbab atau cadar itu kan tujuannya ingin menutupi, lah sudah ditutupi koq malah memamerkan diri. Sehingga terlihat bahwa semangat untuk menutupi diri belum ada. Perhatikan

Rabu, 18 Januari 2017

Ini Akibat Bila Kita Sering Tertawa Berlebihan, Serius Masalahnya


Ada suatu istilah yang sering kita dengar di telinga kita bahwa, “apakah tertawa yang berlebihan itu mematikan hati?” Mari kita kaji bersama tentang istilah yang sering kita dengar ini.

Tersenyum itu adalah aktivitas yang mulia, dimana tersenyum itu bisa bernilai ibadah non materi apabila kita memberikan senyuman yang terbaik dan ikhlas kepada siapa saja yang kita jumpai. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah, senyum juga merupakan salah satu media idhkholus surur atau membahagiakan hati orang lain yang dapat mendatangkan pahala bagi Allah Ta’ala.”

Selanjutnya

Jumat, 13 Januari 2017

Jangan Biasakan Meminta Oleh-oleh Dari Teman Yang Bepergian



Rasulullah SAW melarang seorang muslim untuk meminta-minta dari orang lain, tanpa ada kebutuhan yang mendesak. Karena perbuatan meminta-minta merupakan perbuatan menghinakan diri kepada makhluk dan menunjukkan adanya kecenderungan kepada dunia dan keinginan untuk memperbanyak harta.

Nabi Muhammad SAW mengabarkan bahwa barangsiapa yang melakukan perbuatan meminta-minta yang hina ini, maka dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan

Selasa, 10 Januari 2017

Ketika Rasulullah SAW Hilang Sekejap Diantara Para Sahabat Tercintanya



Abu Hurairah berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk dalam sebuah majelis, kemudian kami mencari-cari Rasulullah SAW namun kami tidak menemukannya”.
Abu Hurairah dan para sahabat biasanya selalu bersama Rasulullah setiap sore. Namun, sore itu beliau tidak ada bersama mereka sehingga mereka mencari beliau, namun tidak menemukan beliau. 

Lantas, mereka berpencar mencari beliau.
Mereka berkata, “Wahai Abu Hurairah, engkau mencari di kebun si fulan, Abu Bakar mencari di daerah sini, dan Umar mencari di daerah sana. Setiap orang mencari di tempat yang berbeda.”
Namun, Abu Hurairah-lah yang beruntung dalam pencarian. Dialah yang menemukan Rasulullah SAW di dalam sebuah kebun milik seorang Anshar. Dia mendatangi kebun tersebut, lalu bertanya akan keberadaan Rasulullah. Orang Anshar itu pun memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah SAW berada di tengah kebun.

Bisa dibayangkan bagaimana rasanya jika engkau dikejutkan dengan keberadaan Rasulullah SAW